Obywatel Kolumbii zatrzymany po włamaniu na teren Akademii Sztuki Wojennej w Warszawie został decyzją sądu tymczasowo aresztowany na trzy miesiące. Jak poinformowała Komenda Stołeczna Policji za pośrednictwem platformy X, sąd oparł się na materiale dowodowym zgromadzonym przez funkcjonariuszy i przychylił się do wniosku prokuratora o zastosowanie środka zapobiegawczego.
Mężczyzna usłyszał zarzut z art. 279 par. 1 Kodeksu karnego, dotyczący kradzieży z włamaniem. Przepis przewiduje za to przestępstwo karę od roku do 10 lat pozbawienia wolności. Policja podkreśliła, że zatrzymany przebywał na terytorium Polski nielegalnie, co ujawniono w toku czynności po jego ujęciu na terenie uczelni.
Do zdarzenia doszło w piątek, około godziny 5.20 rano, na terenie Akademii Sztuki Wojennej przy alei gen. Antoniego Chruściela „Montera” 103 w Warszawie. Według wstępnych ustaleń śledczych mężczyzna wybił szybę w jednym z budynków, w którym mieszczą się pomieszczenia administracyjne, a następnie dostał się do środka. Został niezwłocznie zatrzymany przez pracowników ochrony i przekazany patrolowi policji. Żandarmeria Wojskowa poinformowała, że według ustaleń Kolumbijczyk najprawdopodobniej znajdował się pod wpływem środków odurzających i uszkodził szybę kamieniem.
Na miejscu funkcjonariusze przeprowadzili oględziny, zabezpieczyli ślady i zgromadzili materiał dowodowy. To pozwoliło na przedstawienie podejrzanemu zarzutu kradzieży z włamaniem oraz skierowanie przez prokuratora do sądu wniosku o tymczasowe aresztowanie. Policja wskazała, że sąd uwzględnił wniosek, a zatrzymany trafił do aresztu na okres trzech miesięcy. Na obecnym etapie służby nie informują o szczegółach dotyczących ewentualnych strat czy przedmiotu domniemanej kradzieży.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Bupati-Klaten-Hamenang-Wajar-Ismoyo-mendukung-langkah-nasabah.jpg)
Pemerintah Kabupaten Klaten tengah menghadapi tekanan dari ribuan nasabah Perusahaan Daerah Badan Kredit Kecamatan (PD BKK) Klaten yang dananya tersangkut menyusul kolapsnya lembaga keuangan milik daerah tersebut. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo secara terbuka memaparkan bahwa persoalan di PD BKK Klaten bukan muncul mendadak, melainkan berakar sejak badan itu dibentuk pada 2009 melalui penggabungan 24 PD BKK kecamatan yang sebelumnya beroperasi di tingkat lokal.
Hamenang mengungkapkan, kondisi PD BKK Klaten sebenarnya sudah tidak sehat sejak awal. Sebagian besar nasabah berasal dari kalangan pedagang pasar dan pelaku usaha kecil, segmen yang menjadi target utama penyaluran kredit. Namun, di tengah portofolio kredit yang rentan, ia menyebut terjadi praktik kecurangan (fraud) di internal, bukan sekadar persoalan kredit macet. Oknum-oknum di dalam lembaga diduga ikut "bermain" sehingga memperbesar kerugian dan memperburuk kesehatan keuangan PD BKK Klaten.
Masalah lama itu kemudian berujung pada posisi terisolasi ketika pada 2 Juli 2019 seluruh PD BKK di Jawa Tengah dikonsolidasikan menjadi PT BPR BKK Jateng melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa. Klaten, bersama Pringsurat, tidak ikut bergabung karena sudah menanggung persoalan dan kerugian. Sejak saat itu, PD BKK Klaten hanya memegang izin operasional terbatas: bank masih boleh menerima tabungan dan deposito, tetapi tidak dapat lagi menyalurkan kredit baru. Keterbatasan ruang gerak ini kian menekan kemampuan lembaga memenuhi kewajiban kepada nasabah hingga akhirnya tidak mampu mengembalikan dana.
Setelah PD BKK Klaten resmi berhenti beroperasi, pemerintah daerah membuka posko aduan di bagian perekonomian untuk mendata secara nyata jumlah dan profil nasabah yang terdampak. Menurut Hamenang, hingga kini sudah ada ribuan nasabah yang melaporkan diri ke posko tersebut. Di luar kanal resmi pemerintah, organisasi alumni kemahasiswaan IKA PMII juga menghimpun data nasabah dan terlibat dalam audiensi bersama direksi PD BKK dan perwakilan nasabah yang difasilitasi Pemkab Klaten. Meski jalur komunikasi telah dibuka, Bupati mengakui penyelesaian belum tercapai karena dana yang menjadi hak nasabah secara faktual sudah tidak tersedia.
Di sisi penegakan hukum, Kejaksaan Negeri Klaten mulai memanggil belasan debitur yang memiliki kredit macet untuk mengoptimalkan pengembalian aset PD BKK. Langkah ini dipandang sebagai salah satu upaya penting untuk menutup sebagian kerugian dan membuka peluang pengembalian dana nasabah, meski belum ada kepastian skema dan waktu penyelesaiannya. Sejalan dengan itu, Hamenang menyatakan mendukung nasabah yang menempuh jalur hukum dan menggugat PD BKK Klaten ke pengadilan, menyebut langkah tersebut sebagai saluran yang sah untuk memperjuangkan hak di tengah situasi keuangan lembaga yang telah kolaps.