
W pierwszej połowie roku warszawskie służby przeprowadziły 1928 kontroli taksówek, z czego aż 434 zakończyły się stwierdzeniem nieprawidłowości – wynika z danych stołecznego ratusza. Oznacza to, że problemy wykryto mniej więcej w co piątym skontrolowanym pojeździe. Urząd miasta podkreśla, że najczęściej chodziło o łamanie prawa miejscowego i brak wymaganych uprawnień do kierowania.
Skala naruszeń jest szeroka. 159 kierowców złamało przepisy lokalne, 74 osoby w ogóle nie miały uprawnień do prowadzenia pojazdu, a 71 nie posiadało przy sobie wymaganego wypisu z licencji taksówkarskiej. W trakcie działań służby zatrzymały 28 osób przebywających w Polsce nielegalnie oraz 16 osób poszukiwanych. Kolejnym 16 kierującym odebrano prawo jazdy, u 14 stwierdzono prowadzenie pod wpływem alkoholu lub środków odurzających, a 13 posługiwało się fałszywym prawem jazdy.
Kontrole prowadziły wspólnie Wydział Ruchu Drogowego Komendy Stołecznej Policji, Nadwiślański Oddział Straży Granicznej oraz Mazowiecki Urząd Celno-Skarbowy. Poza najpoważniejszymi przypadkami, służby ujawniały także szereg naruszeń związanych z obsługą pasażerów i rozliczaniem kursów, w tym niewydawanie paragonu, brak ewidencji usługi, brak kasy fiskalnej czy podrobione tablice rejestracyjne.
Ratusz, reagując na wyniki kontroli, przypomina pasażerom o podstawowych zasadach weryfikacji taksówek. Licencjonowany pojazd powinien mieć lampę na dachu z napisem „TAXI” oraz boczne oznaczenia na przednich drzwiach z obu stron – żółto-czerwony pas w barwach miasta, numer boczny oraz herb Warszawy. Po zakończeniu przejazdu kierowca ma obowiązek wydać paragon fiskalny zawierający m.in. numer boczny i numer rejestracyjny pojazdu. Dokument warto zachować, ponieważ stanowi on podstawę do ewentualnych roszczeń. Osoby, które podejrzewają naruszenie przepisów, mogą zgłaszać sprawę do Urzędu m.st. Warszawy, m.in. za pośrednictwem portalu Warszawa 19115.

Aktivitas vulkanik di dua gunung api aktif di Pulau Jawa menguat dalam beberapa hari terakhir, menambah tekanan pada sistem mitigasi bencana di wilayah padat penduduk. Di Yogyakarta, Gunung Merapi mencatat dua kali luncuran awan panas guguran dan 18 kali guguran lava pijar hanya dalam periode 12 jam pengamatan terakhir. Di Jawa Timur, Gunung Semeru pada Sabtu pagi (4/7/2026) erupsi dan meluncurkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1,4 kilometer di atas puncak, mendorong Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertegas peringatan kewaspadaan bagi masyarakat sekitar.
Laporan harian yang dirilis melalui laman resmi magma.esdm.go.id menunjukkan, sejak Kamis (2/7/2026) pukul 18.00 WIB hingga Jumat (3/7/2026) pukul 06.00 WIB, awan panas guguran Merapi meluncur sejauh maksimal 1.800 meter ke arah Kali Sat/Putih. Dalam interval yang sama, guguran lava pijar teramati total 18 kali dengan jarak luncur maksimum hingga 2.500 meter ke arah alur sungai yang sama. Data kegempaan mengindikasikan dinamika magma di perut gunung masih tinggi, dengan puluhan gempa guguran serta puluhan gempa hybrid/fase banyak yang terekam dalam rentang beberapa jam.
Di sisi lain, Semeru yang berstatus Level III (Siaga) menambah daftar gunung dengan aktivitas signifikan. PVMBG melaporkan erupsi Sabtu pagi pukul 06.08 WIB itu memuntahkan kolom abu putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah selatan. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 2 menit 17 detik, dan masih berlangsung saat laporan disusun. Otoritas mengingatkan potensi Awan Panas Guguran (APG), guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Merespons dinamika ini, PVMBG mempertahankan sejumlah pembatasan ketat di sekitar Semeru. Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak, serta diminta menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai di luar zona tersebut karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari sumber erupsi. Selain itu, aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak tidak dianjurkan mengingat risiko lontaran batu pijar. Di Merapi, meski rekomendasi rinci dalam laporan yang dikutip tidak disebutkan, intensitas guguran lava dan awan panas ke arah alur sungai menegaskan pentingnya disiplin terhadap zona rawan bencana yang telah ditetapkan otoritas kebencanaan setempat.
Deretan data kegempaan dan visual dari dua gunung ini menempatkan kembali aspek mitigasi sebagai fokus utama, terutama bagi permukiman yang berada di hilir sungai-sungai yang berhulu di puncak. Dengan beberapa gunung lain di Indonesia juga berada pada status Siaga, otoritas menghadapi tantangan simultan menjaga kewaspadaan publik tanpa memicu kepanikan, sembari memastikan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga tetap berada dalam koridor keselamatan yang direkomendasikan.