Philippines Turns to Anti-Terror Tools to Curb Online Brainwashing of Children

05.07.2026


Philippine authorities are moving to tighten legal and law-enforcement tools against a fast-evolving form of online radicalization they say is targeting children and teenagers, following the deadly June 22 school shooting in Tacloban City. The Philippine National Police (PNP) has sought assistance from foreign counterparts to trace an online extremist group known as “764,” which investigators believe may have influenced two minor suspects in the attack at San Jose National High School. PNP Chief Gen. Jose Melencio Nartatez Jr. said the force will work with law-enforcement agencies abroad to determine the group’s footprint and identify individuals behind it, as well as assess potential involvement of Filipinos and possible target victims.

The Tacloban shooting, which left three students dead, has sharpened focus in Manila on what officials and lawmakers describe as nihilistic violent extremism, or NVE. During a Senate inquiry into the incident, Senator Risa Hontiveros, who heads the chamber’s committee on women and children, said there were indications the campus attack could be linked to an “online nihilistic violent extremist” network infiltrating popular gaming platforms to brainwash vulnerable children. Senate President Sherwin Gatchalian cited what he described as a rise in reported cases of minor-inflicted violence and called for a dedicated law to counter NVE, including online grooming and the progressive “brainwashing” of youths into committing violent acts.

Justice Undersecretary Nicholas Felix Ty has outlined how NVE operates, describing it as a form of violent extremism in which children and young adults are manipulated—often on social media and gaming sites—into a sequence of increasingly serious offenses. According to Ty, behavior may start with relatively minor violations such as trespassing or vandalism before escalating into self-harm, animal cruelty and, in some instances, mass-casualty attacks. He said perpetrators exploit emotional vulnerabilities and the desire for acceptance, using those pressures to steer young people toward harmful conduct. In a previous case cited by Gatchalian, a gaming platform was linked to a planned school attack in Laguna in early 2026.

To confront these trends, the Department of Justice is advocating a comprehensive statute modeled on the Philippines’ existing anti-terrorism and anti-human trafficking laws. Ty said the DOJ is ready to work with Congress on a measure that would provide clearer legal bases to prosecute online grooming and exploitation tied to violent acts, while mobilizing a whole-of-government response involving law enforcement, education, and social welfare agencies. Pending such legislation, the department plans to recommend that the Anti-Terrorism Council adapt current counterterrorism mechanisms to address NVE, noting that similar approaches are being used in other countries. The council’s interagency structure, which already brings together the DOJ, Education and Social Welfare departments among others, offers a template that authorities say can be leveraged to strengthen intelligence gathering and coordination as lawmakers deliberate on a dedicated NVE law.

Other news

Fraud Menahun di PD BKK Klaten Terkuak, Ribuan Nasabah Mengadu dan Debitur Macet Dipanggil Jaksa

05.07.2026


Pemerintah Kabupaten Klaten tengah menghadapi tekanan dari ribuan nasabah Perusahaan Daerah Badan Kredit Kecamatan (PD BKK) Klaten yang dananya tersangkut menyusul kolapsnya lembaga keuangan milik daerah tersebut. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo secara terbuka memaparkan bahwa persoalan di PD BKK Klaten bukan muncul mendadak, melainkan berakar sejak badan itu dibentuk pada 2009 melalui penggabungan 24 PD BKK kecamatan yang sebelumnya beroperasi di tingkat lokal.

Hamenang mengungkapkan, kondisi PD BKK Klaten sebenarnya sudah tidak sehat sejak awal. Sebagian besar nasabah berasal dari kalangan pedagang pasar dan pelaku usaha kecil, segmen yang menjadi target utama penyaluran kredit. Namun, di tengah portofolio kredit yang rentan, ia menyebut terjadi praktik kecurangan (fraud) di internal, bukan sekadar persoalan kredit macet. Oknum-oknum di dalam lembaga diduga ikut "bermain" sehingga memperbesar kerugian dan memperburuk kesehatan keuangan PD BKK Klaten.

Masalah lama itu kemudian berujung pada posisi terisolasi ketika pada 2 Juli 2019 seluruh PD BKK di Jawa Tengah dikonsolidasikan menjadi PT BPR BKK Jateng melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa. Klaten, bersama Pringsurat, tidak ikut bergabung karena sudah menanggung persoalan dan kerugian. Sejak saat itu, PD BKK Klaten hanya memegang izin operasional terbatas: bank masih boleh menerima tabungan dan deposito, tetapi tidak dapat lagi menyalurkan kredit baru. Keterbatasan ruang gerak ini kian menekan kemampuan lembaga memenuhi kewajiban kepada nasabah hingga akhirnya tidak mampu mengembalikan dana.

Setelah PD BKK Klaten resmi berhenti beroperasi, pemerintah daerah membuka posko aduan di bagian perekonomian untuk mendata secara nyata jumlah dan profil nasabah yang terdampak. Menurut Hamenang, hingga kini sudah ada ribuan nasabah yang melaporkan diri ke posko tersebut. Di luar kanal resmi pemerintah, organisasi alumni kemahasiswaan IKA PMII juga menghimpun data nasabah dan terlibat dalam audiensi bersama direksi PD BKK dan perwakilan nasabah yang difasilitasi Pemkab Klaten. Meski jalur komunikasi telah dibuka, Bupati mengakui penyelesaian belum tercapai karena dana yang menjadi hak nasabah secara faktual sudah tidak tersedia.

Di sisi penegakan hukum, Kejaksaan Negeri Klaten mulai memanggil belasan debitur yang memiliki kredit macet untuk mengoptimalkan pengembalian aset PD BKK. Langkah ini dipandang sebagai salah satu upaya penting untuk menutup sebagian kerugian dan membuka peluang pengembalian dana nasabah, meski belum ada kepastian skema dan waktu penyelesaiannya. Sejalan dengan itu, Hamenang menyatakan mendukung nasabah yang menempuh jalur hukum dan menggugat PD BKK Klaten ke pengadilan, menyebut langkah tersebut sebagai saluran yang sah untuk memperjuangkan hak di tengah situasi keuangan lembaga yang telah kolaps.