BPI Leads Push for Integrated Seed Security System With New National Reserve Facility

05.07.2026


The Philippines is rolling out a nationwide network of seed storage facilities worth about ₱550 million in a bid to shield its agriculture sector and consumers from increasingly frequent climate shocks. The Department of Agriculture (DA) is positioning the so‑called seed vaults as critical infrastructure to keep high-quality planting materials on standby, enabling farmers to replant quickly after typhoons, droughts and other disruptions.

Agriculture Secretary Francisco Tiu Laurel Jr. said the DA has earmarked ₱250 million this year and plans to secure at least ₱300 million more in 2027 to build one seed storage system in each region. The move follows past supply imbalances, including an incident in Baguio where a shortage of carrot seeds after heavy rains pushed farmers to shift to cabbage, triggering a carrot shortfall and a glut of cabbage. The episode underscored how gaps in seed availability can cascade into price swings and hit farm incomes.

The flagship of the program is the National Seed Reserve Facility inaugurated at the Bureau of Plant Industry (BPI) compound in Quezon City. The upgraded complex includes three 400-square-meter storage rooms with capacity for around 9,000 bags of seeds, mainly rice, and runs partly on solar power—about 60% of its electricity needs—aimed at cutting operating costs and ensuring the vault remains functional during disruptions. BPI Director Glenn Panganiban described the project as a major step toward an integrated and reliable seed security system that supports regular planting programs, disaster response, rehabilitation and other government priorities.

Construction is under way on additional modern storage facilities in the Bicol region and Iloilo, with further sites planned in areas including Baguio, Laguna, Guimaras, Davao and Negros Occidental. DA officials say incorporating solar power across the warehouse network and making the vaults accessible to stakeholders will foster collaboration and help maintain seed quality and viability over longer periods. By building up buffer stocks nationwide, the agency aims to curb planting delays after calamities, speed up production recovery and reduce the risk of supply shocks that can fuel spikes in food prices.

Other news

Luncuran Awan Panas Sentuh Kilometer, Ancaman di Lereng Merapi dan Semeru Menguat

05.07.2026


Aktivitas vulkanik di dua gunung api aktif di Pulau Jawa menguat dalam beberapa hari terakhir, menambah tekanan pada sistem mitigasi bencana di wilayah padat penduduk. Di Yogyakarta, Gunung Merapi mencatat dua kali luncuran awan panas guguran dan 18 kali guguran lava pijar hanya dalam periode 12 jam pengamatan terakhir. Di Jawa Timur, Gunung Semeru pada Sabtu pagi (4/7/2026) erupsi dan meluncurkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1,4 kilometer di atas puncak, mendorong Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mempertegas peringatan kewaspadaan bagi masyarakat sekitar.

Laporan harian yang dirilis melalui laman resmi magma.esdm.go.id menunjukkan, sejak Kamis (2/7/2026) pukul 18.00 WIB hingga Jumat (3/7/2026) pukul 06.00 WIB, awan panas guguran Merapi meluncur sejauh maksimal 1.800 meter ke arah Kali Sat/Putih. Dalam interval yang sama, guguran lava pijar teramati total 18 kali dengan jarak luncur maksimum hingga 2.500 meter ke arah alur sungai yang sama. Data kegempaan mengindikasikan dinamika magma di perut gunung masih tinggi, dengan puluhan gempa guguran serta puluhan gempa hybrid/fase banyak yang terekam dalam rentang beberapa jam.

Di sisi lain, Semeru yang berstatus Level III (Siaga) menambah daftar gunung dengan aktivitas signifikan. PVMBG melaporkan erupsi Sabtu pagi pukul 06.08 WIB itu memuntahkan kolom abu putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah selatan. Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 2 menit 17 detik, dan masih berlangsung saat laporan disusun. Otoritas mengingatkan potensi Awan Panas Guguran (APG), guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Merespons dinamika ini, PVMBG mempertahankan sejumlah pembatasan ketat di sekitar Semeru. Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak, serta diminta menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai di luar zona tersebut karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari sumber erupsi. Selain itu, aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak tidak dianjurkan mengingat risiko lontaran batu pijar. Di Merapi, meski rekomendasi rinci dalam laporan yang dikutip tidak disebutkan, intensitas guguran lava dan awan panas ke arah alur sungai menegaskan pentingnya disiplin terhadap zona rawan bencana yang telah ditetapkan otoritas kebencanaan setempat.

Deretan data kegempaan dan visual dari dua gunung ini menempatkan kembali aspek mitigasi sebagai fokus utama, terutama bagi permukiman yang berada di hilir sungai-sungai yang berhulu di puncak. Dengan beberapa gunung lain di Indonesia juga berada pada status Siaga, otoritas menghadapi tantangan simultan menjaga kewaspadaan publik tanpa memicu kepanikan, sembari memastikan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga tetap berada dalam koridor keselamatan yang direkomendasikan.