Desalination Moves Center Stage in Metro Cebu’s Long-Term Water Strategy

05.07.2026


Vivant Water has begun supplying desalinated water to the Metropolitan Cebu Water District, marking a significant step in Metro Cebu’s bid to secure more climate-resilient water sources as demand rises and El Niño risks intensify. MCWD said it started receiving an initial 5,000 cubic meters per day of treated seawater from Isla Mactan Cordova Corp., a Vivant Water subsidiary, after the Cordova desalination plant was connected to the utility’s network at the start of July. The first tranche is expected to serve roughly 7,000 to 7,500 households, with volumes set to ramp up as facility operations stabilize.

The new supply comes as MCWD grapples with a daily water deficit exceeding 16,000 cubic meters, amid mounting pressure on Cebu’s overextracted aquifers. The desalination project is designed to diversify sources and reduce reliance on groundwater and surface water, which have been strained by rapid urban growth and recurring dry spells. “The sooner we bring climate-resilient sources online, the sooner we can help reduce stress on our aquifers and protect the natural resources that Cebu’s future depends on,” Vivant Water President Jess Anthony Garcia said in a statement.

Under a 25-year joint venture and water supply agreement signed in April 2025, Vivant Water has committed to deliver up to 20,000 cubic meters of desalinated water per day to MCWD once the plant reaches full commercial operations. At that level, the Cordova facility is projected to supply potable water to nearly 30,000 households in Metro Cebu, significantly narrowing the utility’s current shortfall. MCWD General Manager John Dx Lapid said the district has been seeking partners “who understand the urgency of Cebu’s water needs and share our vision of serving Cebuanos better,” positioning desalination as a core component of its long-term strategy.

The ramp-up in alternative water sourcing coincides with warnings from the Philippine Atmospheric, Geophysical and Astronomical Services Administration that El Niño conditions may intensify later this year and persist into early 2027. El Niño, driven by abnormal warming of Pacific Ocean surface temperatures, typically brings drought, erratic rainfall and stronger heat waves, heightening risks for water-stressed regions such as Cebu. Vivant Corp., which manages its water investments through Vivant Infracore Holdings Inc., has earmarked billions of pesos for water projects, including desalination, wastewater treatment and distribution networks, as part of a broader P67-billion investment program in energy and water through 2030. The Cordova plant, now moving from commissioning to partial operations, underscores how utilities and private operators are accelerating climate-adaptive infrastructure to shore up supply ahead of more volatile weather patterns.

Other news

Risiko Banjir dan Longsor Pacu Pemprov Sumut Tindak Tegas PETI

05.07.2026


Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memperketat langkah penertiban pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Mandailing Natal, dengan fokus pada kawasan Sungai Batang Gadis di sekitar Muara Mais dan wilayah Kotanopan. Operasi terbaru dilakukan sebagai tindak lanjut arahan tegas Gubernur Sumut Bobby Nasution, di tengah sorotan publik dan media sosial terhadap masih berlanjutnya aktivitas tambang ilegal di daerah tersebut. Pemprov menegaskan penindakan ini menjadi bagian dari komitmen untuk menegakkan hukum sekaligus melindungi lingkungan.

Penertiban dijalankan melalui tim terpadu yang melibatkan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Sumut, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Satpol PP, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, serta berbagai instansi terkait. Di Kotanopan, petugas masih menemukan aktivitas PETI menggunakan alat berat di sejumlah titik, yang dikaitkan dengan pemilik berinisial GD dan PW. Terhadap aktivitas yang masih beroperasi, tim melakukan penghentian langsung di lokasi sesuai kewenangan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Di kawasan Sungai Batang Gadis sekitar Muara Mais, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumut, Heri Wahyudi Marpaung, menyatakan tim terpadu sempat dihadapkan pada situasi di mana para pelaku PETI melarikan diri setelah mengetahui kedatangan petugas, menyeberangi sungai menuju kawasan hutan. Meski demikian, aparat berhasil mengamankan sejumlah barang bukti dan menemukan beragam peralatan yang digunakan untuk mendukung aktivitas penambangan emas ilegal. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral Sumut, Dedi Jamiansyah Putra Harahap, menambahkan bahwa peralatan di lokasi juga dihancurkan sebagai bagian dari penegakan hukum, di samping penyitaan barang bukti untuk proses lebih lanjut.

Laporan lapangan menunjukkan kerusakan lingkungan yang cukup serius di sepanjang bantaran Sungai Batang Gadis dan area sekitar PETI lainnya. Pengerukan intensif mengubah bentang alam dan morfologi sungai, merusak daerah aliran sungai, serta mengikis tanah hingga mendekati badan Jalan Lintas Sumatera. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko bencana banjir dan longsor yang dapat mengancam keselamatan masyarakat serta mengganggu infrastruktur jalan nasional. Di sisi lain, hilangnya vegetasi, terbentuknya lubang-lubang bekas galian, dan potensi penurunan kualitas air sungai menambah daftar tantangan pemulihan ekosistem yang kini menjadi agenda lanjutan pemerintah daerah.