
Hong Kong’s national security police have arrested the owner of an independent bookstore and another person on suspicion of selling seditious publications and receiving funds from foreign political organisations, in a case that underscores mounting pressure on the city’s publishing sector.
Officers from the National Security Department detained a 33-year-old woman and a 32-year-old man during an operation in the working-class district of Sham Shui Po on Wednesday, according to a government statement. Multiple news reports identified the shop as Hunter Bookstore and the owner as Leticia Wong Man-huen, a former district councillor and one-time political reporter for local newspaper Sing Tao Daily. Police did not name the suspects in their official statement.
Authorities alleged the pair displayed items with seditious intent and sold publications that incited hatred against the Hong Kong Special Administrative Region government, the judiciary, and law enforcement agencies. Police said they seized a batch of books, documents and other materials deemed “seditious” from the shop and related premises. Wong is also suspected of breaching Hong Kong’s Organised and Serious Crimes Ordinance, with police accusing her of receiving multiple remittances funded by foreign political organisations. Among the publications reportedly taken by officers was a copy of “The Troublemaker,” a biography of jailed media figure Jimmy Lai.
The arrests come ahead of politically sensitive dates: the July 1 anniversary of Hong Kong’s 1997 handover to Chinese rule, and days before the sixth anniversary of the Beijing-imposed national security law, enacted in 2020 following large-scale anti-government protests. That law, together with colonial-era sedition provisions, has increasingly been used in cases involving media, civil society and publishing. Press freedom group Committee to Protect Journalists urged authorities to release Wong and criticised what it described as an expanding application of national security legislation to the city’s book and magazine trade.

Indonesia menambah amunisi dalam menangani beban penyakit metabolik yang kian berat dengan kehadiran tirzepatide, terapi inovatif untuk diabetes melitus tipe 2 dan obesitas. PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), bagian dari Zuellig Pharma, resmi menghadirkan obat agonis reseptor ganda glucose-dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dan glucagon-like peptide-1 (GLP-1) pertama di pasar domestik setelah memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Langkah ini dinilai strategis di tengah meningkatnya prevalensi diabetes dan obesitas di Indonesia.
Data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025 menunjukkan sekitar 20,4 juta penduduk Indonesia berusia 20–79 tahun hidup dengan diabetes, dan angka ini diproyeksikan naik menjadi 28,6 juta pada 2050 jika tidak ada pengendalian efektif. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas dewasa sudah mencapai 23,4 persen, lebih tinggi dibandingkan satu dekade lalu. Kombinasi dua kondisi tersebut meningkatkan risiko komplikasi serius seperti penyakit kardiovaskular dan gangguan ginjal kronis, sekaligus menekan kualitas hidup pasien.
APL menyebut peluncuran tirzepatide dimungkinkan berkat skema percepatan yang diterapkan BPOM. Obat ini mendapatkan izin edar dalam 98 hari kerja, sementara persetujuan indikasi untuk manajemen berat badan kronis diselesaikan hanya dalam 42 hari kerja melalui mekanisme reliance. Kebijakan percepatan yang mulai berlaku 1 Agustus 2025 memungkinkan obat inovatif yang telah disetujui di negara referensi dan memiliki dokumen lengkap diproses sekitar 90 hari kerja, tanpa menurunkan standar keamanan, khasiat, dan mutu. Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan setiap produk tetap melalui evaluasi ilmiah menyeluruh meski memperoleh jalur cepat.
Taruna menyoroti bahwa sebelumnya banyak obat inovatif hanya tersedia di luar negeri sehingga pada praktiknya lebih mudah diakses kelompok berpendapatan tinggi yang mampu berobat ke negara tetangga seperti Singapura. Dengan persetujuan tirzepatide di dalam negeri, regulator berharap kesenjangan akses dapat diperkecil. Secara mekanisme, tirzepatide bekerja mengaktivasi dua reseptor hormon GIP dan GLP-1 yang meniru kerja hormon alami tubuh, membantu meningkatkan kerja insulin, mempercepat masuknya glukosa ke dalam sel, serta mencegah penumpukan gula di pembuluh darah yang dapat memicu aterosklerosis dan komplikasi lain. Di tengah kenaikan tajam kasus diabetes dan obesitas, kehadiran terapi ini diposisikan sebagai perluasan pilihan tatalaksana berbasis bukti ilmiah bagi pasien dan tenaga kesehatan di Indonesia.